Sejarah singkat kabupaten sumedang
Pada mulanya Kabupaten Sumedang adalah sebuah kerajaan di bawah kekuasaan Raja Galuh. Didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pakuan Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama, yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke-12. Kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana yang berarti menerangi alam, dan kemudian diganti lagi menjadi Sumedang Larang (Sumedang berasal dari kata Insun Medal/Insun Medangan yang berarti aku dilahirkan; aku menerangi dan larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingannya).
Sumedang Larang mengalami masa
kejayaan pada waktu dipimpin oleh Pangeran Angkawijaya atau Prabu Geusan Ulun
sekitar tahun 1578, dan dikenal luas hingga ke pelosok Jawa Barat
dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah Selatan sampai dengan Samudera Hindia, wilayah Utara sampai Laut Jawa, wilayah Barat sampai dengan Cisadane, dan wilayah Timur sampai dengan Kali
Pamali.
Kerajaan ini kemudian menjadi vazal Kesultanan Cirebon,
dan selanjutnya berada di bawah kendali Kesultanan Mataram,
di masa Sultan Agung. Pada masa Mataram inilah teknik persawahan diperkenalkan
di tanah Pasundan dan menjadi awal istilah "gudang beras" untuk
daerah antara Indramayu hingga Karawang/Bekasi. Dalam strategi penyerangan
Sultan Agung ke Batavia wilayah Sumedang dijadikan wilayah penyedia logistik
pangan. Selain itu, aksara Hanacaraka juga
diperkenalkan di wilayah Pasundan pada masa ini, dan dikenal sebagai Cacarakan.
Pusat kota Sumedang juga dirancang pada masa ini, mengikuti pola dasar
kota-kota Mataraman lainnya. Sebelum Bandung dibangun pada abad ke-19, Sumedang
adalah salah satu pusat budaya Pasundan yang penting.
Ketika Pakubuwono I harus memberikan konsesi kepada VOC,
wilayah kekuasaan Sumedang diberikan kepada VOC, yang kemudian dipecah-pecah,
sehingga wilayah Sumedang menjadi seperti yang sekarang ini.
Pangeran Aria Soeriaatmadja (bupati
Sumedang di tahun 1882 – 1919), juga dikenal dengan julukan "Pangeran
Mekkah", karena wafat di Makkah
Sumedang mempunyai ciri khas sebagai
kota kuno khas di Pulau Jawa, yaitu terdapat Alun-alun sebagai pusat yang
dikelilingi Mesjid Agung, rumah penjara, dan kantor pemerintahan. Di tengah
alun-alun terdapat bangunan yang bernama Lingga, tugu peringatan yang dibangun
pada tahun 1922. Dibuat oleh Pangeran Siching dari Negeri Belanda dan dipersembahkan untuk Pangeran
Aria Soeriaatmadja atas jasa-jasanya dalam mengembangkan Kabupaten Sumedang.
Lingga diresmikan pada tanggal 22 Juli 1922
oleh Gubernur Jenderal Mr. Dr. Dirk Fock Sampai saat ini
Lingga dijadikan lambang daerah Kabupaten Sumedang dan tanggal 22 April
diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Sumedang. Lambang Kabupaten Sumedang,
Lingga, diciptakan oleh R. Maharmartanagara, putra seorang Bupati Bandung Rd.
Adipati Aria Martanegara, keturunan Sumedang. Lambang ini diresmikan menjadi
lambang Sumedang pada tanggal 13 Mei 1959.
Hal-hal yang terkandung pada logo
Lingga:
1.
Perisai : Melambangkan jiwa
ksatria utama, percaya kepada diri sendiri
2.
Sisi Merah : Melambangkan
semangat keberanian
3.
Dasar Hijau : Melambangkan
kesuburan pertanian
4.
Bentuk Setengah Bola dan Bentuk
Setengah Kubus Pada Lingga : Melambangkan bahwa manusia tidak ada yang
sempurna
5.
Sinar Matahari : Melambangkan
semangat dalam mencapai kemajuan
6.
Warna Kuning Emas :
Melambangkan keluhuran budi dan kebesaran jiwa
7.
Sinar yang ke 17 Angka :
Melambangkan Angka Sakti tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
8.
Delapan Bentuk Pada Lingga :
Lambang Bulan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
9.
19 Buah Batu Pada Lingga, 4 Buah
Kaki Tembik dan 5 Buah Anak Tangga : Lambang Tahun Proklamasi Kemerdekaan
Republik Indonesia Tahun 1945
10.
Tulisan Insun Medal : Tulisan
Insun Medal erat kaitannya dengan kata Sumedang yang mengandung arti:
- Berdasarkan Prabu Tajimalela, seorang tokoh legendaris dalam sejarah Sumedang, Insun Medal berarti (Insun : Aku, Medal : Keluar).
- Berdasarkan data di Museum Prabu Geusan Ulun; Insun berarti (Insun: Daya, Madangan: Terang) Kedua pengertian ini bersifat mistik.
- Berdasarkan keterangan Prof. Anwas Adiwilaga, Insun Medal berasal dari kata Su dan Medang
(Su: bagus dan Medang:
sejenis kayu yang bagus pada Jati, yaitu huru yang banyak tumbuh di Sumedang
dulu), dan pengertian ini bersifat etimologi.
Menurut Bujangga Manik, di dekat
Gunung Tampomas terdapat Kerajaan Kahiyangan, yang diserang pasukan Cirebon
dalam masa pemerintahan Surawisesa.
Belum jelas, adakah hubungan antara
Medang Kahiyangan dan Sumedang Larang. Namun pada saat Bujangga Manik memasuki
Medang Kahiyangan, menurut versi lainnya, saat itu sudah terdapat kerajaan yang
disebut Sumedang Larang.
Dalam Kropak 410 disbutkab, Pendiri
Kerajaan Sumedang Larang tak lain adalah Prabu Resi Tajimalela. Ia berkedudukan
di Tembong Agung yang disebut Mandala Himbar Buana.
Masih belum jelas pula asal-usulnya
tokoh Legendaris leluhur Sumedang ini. Sebab, Tajimalela adalah nama lain dari
Panji Romahyang, putra Damung Tabela Panji Ronajaya dari Dayeuh Singapura
(Rintisan Penelusuran silam sejarah Jawa Barat).
Sumber lain menjelaskan, baik Kitab
Waruga Jagat, Layang Darmaraja, maupun riwayat yang berdasarkan tradisi lisan
yang masih hidup, disebutkan bahwa Prabu Tajimalela adalah putra Prabu Guru Aji
Putih, salah seorang keturunan raja Galuh yang masih bersaudara dengan Sri
Baduga Maharaja. Ia melakukan petualangan hingga ke kawasan Timur sekitar
pinggiran Sungai Cimanuk.
Prabu Tajimalela masih memiliki
sejumlah nama, antara lain: Prabu Resi Agung Cakrabuana, Batara Tuntang Buana,
dan Aji Putih. Dalam Waruga Jagat yang telah disalin dari huruf Arab ke dalam
tulisan latin (1117 H), antara lain dikatakan: "Ari putrana Sang Dewa
Guru Haji Putih, nyaeta Sang Aji Putih."
Kehadiran Prabu Guru Haji Putih
melahirkan perubahan-perubahan baru dalam kemasyarakatan, yang telah dirintis
sejak abad ke-8 oleh Sanghyang Resi Agung. Secara perlahan dusun-dusun di
sekitar pinggiran sungai Cimanuk itu diikat oleh suatu struktur pemerintahan
dan kemasyarakatan hingga berdirilah Kerajaan Tembong Agung yang merupakan
cikal bakal Kerajaan Sumedang Larang. Kerajaan Tembong Agung tersebut, menurut
riwayat teletak di Kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
Prabu Guru Haji Putih berputra Prabu
Resi Tajimalela. Berdasarkan perbandingan generasi dalam Kropak 410 Tajimalela
sejajar dengan tokoh Ragamulya (1340-1350) penguasa di Kawali dan tokoh
Suryadewata, ayahanda Batara Gunung Bitung di Majalengka.
Memang belum diperoleh keterangan
sumber yang menyebut-nyebut siapa gerangan istri Sang Prabu Resi Tajimalela.
Namun demikian, dalam beberapa sumber baik lisan maupun tertulis, dikatakan
Prabu Resi Tajimalela mempunyai dua orang putra: Prabu Gajah Agung dan Lembu
Agung.
Tahta kerajaan Sumedang Larang dari
Prabu Tajimalela dilanjutkan oleh putranya bernama Atmabrata yang lebih dikenal
dengan sebutan Gajah Agung yang berkedudukan di Cicanting.
Kisah awal raja ini memang mirip
dengan kisah awal Kerajaan Mataram. Menurut versi Babat Tanah Jawi, antara Ki
Ageng Sela dengan Ki Ageng Pamanahan, Ki Ageng Sela memetik dan menyimpan buah
kelapa muda, lalu ia pergi. Datang Ki Ageng Pamanahan yang kemudian meminumnya.
Maka kemudian yang menjadi raja Ki Ageng Pamanahan.
Demikian pula dalam naskah Layang
Darmaraja, yang mengisahkan Prabu Lembu Agung dan Gajah Agung yang melanjutkan
tahta kepemimpinan dari Prabu Resi Tajimalela.
Dikisahkan, pada suatu ketika Prabu
Tajimalela memanggil kedua putra kembarnya Lembu Agung dan Gajah Agung. Prabu
Tajimalela berkata kepada mereka agar ada di antara salah seorang putranya ini
yang bersedia melanjutkan kepemimpinannya.
"Adinda, adindalah kiranya yang
lebih tepat menjadi raja," ujar Lembu Agung kepada adiknya. "Kakanda,
sungguh tidak pantas adinda yang masih muda usia, bila harus menjadi raja.
Kakandalah yang lebih tepat,"
jawab Gajah Agung. Setelah di antara kedua putranya, masing-masing saling
menunjuk siapa di antara mereka yang pantas menjadi raja, akhirnya Prabu Resi
Tajimalela memetik buah kelapa muda lalu disimpannya kelapa tadi serta sebilah
pedang.
Mereka berdua disuruh menungguinya. "Adinda,
tolong jaga kelapa ini. Kakanda hendak pergi ke jamban dulu," kata
Lembu Agung seraya pergi meninggalkan Gajah Agung. Tiba-tiba sepeninggal Lembu
Agung, Gajah Agung merasakan haus yang bukan kepalang.
Apa boleh buat, untuk menghilangkan
dahaganya, Prabu Gajah Agung kemudian mengupas kelapa itu dan diminumlah
airnya. Karenanya, ketika Lembu Agung kembali lagi, Gajah Agung langsung
menyampaikan permohonan maaf kepada Lembu Agung karena rasa bersalahnya telah
meminum air kelapa yang semestinya dijaganya.
Semula Prabu Gajah Agung menyangka,
Prabu Lembu Agung akan memarahinya. Namun ternyata, dengan kebesaran jiwa Prabu
Lembu Agung malah berkata: "Adinda, tampaknya suratan takdir telah
menentukan, dengan diminumnya air kelapa tadi oleh adinda, sudah barang tentu
Adindalah yang sekarang terpilih menjadi raja," ucap Lembu Agung.
Singkat cerita, jadilah Prabu Gajah
Agung meneruskan kepemimpinan Prabu Tajimalela, yang kemudian ia meninggalkan
tempat menuju daerah di pinggiran Kali Cipeles untuk mendirikan kerajaan yang
sekarang disebut Ciguling.
Kemudian ia bergelar Prabu
Pagulingan. Sementara kepemimpinan Prabu Gajah Agung kemudian digantikan oleh
putranya , Wirajaya, yang lebih dikenal Sunan Pagulingan. Dalam Rintisan
Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Sunan Pagulingan berkedudukan di
Cipameungpeuk.
Namun ada pula yang mengisahkan,
kedudukan Kerajaan Sumedang Larang pada saat itu berada di Ciguling, Kelurahan
Pasanggrahan, Kecamatan Sumedang Selatan. Yang jelas, ketiga raja Sumedang
Larang yang pertama ini masing-masing berkedudukan di tempat yang berbeda-beda.
Ini merupakan suatu gejala, bahwa kerajaan tersebut belum permanen yang dapat
ditinggali turun temurun oleh para penerus pemegang kekuasaannya. Keadaan
tersebut berlangsung sampai beberapa generasi berikutnya.
Putri Sulung Pagulingan bernama Ratu
Ratnasih alias Nyi Mas Rajamantri diperistri Sri Baduga Maharaja. Karena itu, adiknya
bernama Martalaya menggantikan kedudukan ayahnya menjadi penguasa Sumedang yang
keempat dengan gelar Sunan Guling.
Sunan Guling digantikan oleh
putranya bernama Tirta Kusumah atau Sunan Patuakan sebagai raja kelima Sumedang
Larang. Kemudian, ia digantikan lagi oleh putri sulung bernama Shintawati alias
Nyi Mas Patuakan.
Antara Ibu dan anak ini mempunyai
gelar yang sama, yaitu Patuakan.
Ratu Shintawati berjodoh dengan
Sunan Corenda, raja Talaga putra Ratu Simbar Kencana dari Kusumalaya putra Dewa
Niskala. Dengan demikian, ia menjadi cucu menantu penguasa Galuh.
Sunan Corenda mempunyai dua
permaisuri, yakni Mayangsari putri Langlangbuana dari Kuningandan, Shintawati
dari Sumedang. Dari Mayangsari, Sunan Corenda memperoleh putri Bernama Ratu
Wulansari alias Ratu Parung.
Berjodoh dengan Rangga Mantri alias
Sunan Parung Gangsa (Pucuk Umum Talaga), putra Munding Surya Ageung. Tokoh ini
putra Sri Baduga. Sunan Parung Gangsa ditaklukkan oleh Cirebon tahun 1530 dan masuk
Islam.
Dari Shintawati putri sulung Sunan
Guling, Sunan Corenda mempunyai putri bernama Setyasih, yang kemudian menjadi
penguasa Sumedang dengan gelar Ratu Pucuk Umum. Ratu Pucuk Umum Menikah dengan
Ki Gedeng Sumedang yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Santri. Pangeran ini
adalah putra Pangeran Palakaran dari puteri Sindangkasih. Pangeran Palakaran
putra Maulana Abdurrahman alias Pangeran Panjunan.
Dengan perkawinan antara Ratu
Setyasih dan Ki Gedeng Sumedang inilah agama Islam mulai menyebar di Sumedang
pada tahun 1529.
Pangeran Santri dinobatkan sebagai
penguasa Sumedang pada tanggal 13 bagian gelap bulan Asuji tahun 1452 Saka,
atau kira-kira 21 Oktober 1530 M, tiga bulan setelah penobatan Pangeran Santri.
Pada tanggal 12 bagian terang bulan
Margasira tahun 1452 di Keraton Pakungwati diselenggarakan perjamuan
"syukuran" untuk merayakan kemenangan Cirebon atas Galuh dan
sekaligus pula merayakan penobatan Pangeran Santri.
Hal ini menunjukkan, bahwa Sumedang
Larang telah masuk dalam lingkaran pengaruh Cirebon. Pangeran Santri adalah
murid Susuhunan Jati. Pangeran Santri sebagai penguasa Sumedang pertama yang
menganut Islam. Ia pula yang membangun Kutamaya sebagai Ibukota baru untuk
pemerintahannya.
Dari perkawinannya dengan Ratu Pucuk
Umum alias Ratu Inten Dewata, Pangeran Santri yang bergelar Pangeran
Kusumahdinata I ini dikaruniai enam orang anak, yaitu Pangeran Angkawijaya
(Prabu Geusan Ulun), Kiyai Rangga Haji, Kiyai Demang Watang Walakung, Santowaan
Wirakusumah, yang melahirkan keturunan anak-cucu di Pagaden Subang, Santowaan
Cikeruh dan Santowaan Awiluar.
Pangeran Santri wafat 2 Oktober
1579. Di antara putra-putri Pangeran Santri dari Ratu Inten Dewata (Pucuk
Umum), yang melanjutkan pemerintahan di Sumedang Larang ialah Pangeran
Angkawijaya bergelar Prabu Geusan Ulun. Menurut Babad, daerah kekuasaan Geusan
Ulun dibatasi kali Cipamali di sebelah Timur, Cisadane di sebelah Barat,
sedangkan di sebelah Selatan dan Utara dibatasi laut.
Daerah kekuasaan Geusan Ulun dapat
disimak dari isi surat Rangga Gempol III yang dikirimkan kepada Gubernur
Jenderal Willem Van Outhoorn. Surat ini dibuat hari Senin, 2 Rabi'ul Awal tahun
Je atau 4 Desember 1690, yang dimuat dalam buku harian VOC di Batavia tanggal
31 Januari 1691.
Dalam surat tadi, Rangga Gempol III
(Pangeran Panembahan Kusumahdinata VI) menuntut agar kekuasannya dipulihkan
kembali seperti kekuasaan buyutnya, yaitu Geusan Ulun. Rangga Gempol III
mengungkapkan bahwa kekuasaan Geusan Ulun meliputi 44 penguasa daerah Parahyangan
yang terdiri dari 22 kandagalante dan 18 umbul.
Ke-44 daerah di bawah kekuasaan
Geusan Ulun meliputi:
I. Di Kabupaten Bandung
1.
Timbanganten
2.
Batulayang
3.
Kahuripan
4.
Tarogong
5.
Curugagung
6.
Ukur
7.
Marunjung
8.
Daerah Ngabei Astramanggala
II. Di Kabupaten Parakanmuncang
1.
Selacau
2.
Daerah Ngabei Cucuk
3.
Manabaya
4.
Kadungora
5.
Kandangwesi (Bungbulang)
6.
Galunggung (Singaparna)
7.
Sindangkasih
8.
Cihaur
9.
Taraju
III. Di Kabupaten Sukapura
1.
Karang
2.
Parung
3.
Panembong
4.
Batuwangi
5.
Saung Watang (Mangunreja)
6.
Daerah Ngabei Indawangsa di Taraju
7.
Suci
8.
Cipiniha
9.
Mandala
10.
Nagara (Pameungpeuk)
11.
Cidamar
12.
Parakan Tiga
13.
Muara
14.
Cisalak
15. Sukakerta
Berdasarkan data yang dikirimkan
Rangga Gempol III pada masa VOC, maka kekuasaan Prabu Geusan Ulun meliputi
Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung. Batas di sebelah Timur adalah Garis
Cimanuk - Cilutung ditambah Sindangkasih (daerah muara Cideres ke Cilutung).
Di sebelah Barat garis Citarum -
Cisokan. Batas di sebelah Selatan laut. Namun di sebelah Utara diperkirakan
tidak meliputi wilayah yang telah dikuasai oleh Cirebon.
Masa kekuasaan Prabu Geusan Ulun (1579-1601)
bertepatan dengan runtuhnya Kerajaan Pajajaran akibat serangan Banten di bawah
Sultan Maulana Yusuf.
Sebelum Prabu Siliwangi meninggalkan
Pajajaran mengutus empat Kandagalante untuk menyerahkan Mahkota serta
menyampaikan amanat untuk Prabu Geusan Ulun yang pada dasarnya Kerajaan
Sumedang Larang supaya melanjutkan kekuasaan Pajajaran. Geusan Ulun harus
menjadi penerus Pajajaran.
Dalam Pustaka Kertabhumi I/2 yang
berbunyi: "Ghesan Ulun nyakrawartti mandala ning Pajajaran kangwus
pralaya, ya ta sirna, ing bhumi Parahyangan. Ikang kedatwan ratu Sumedang
haneng Kutamaya ri Sumedangmandala" (Geusan Ulun memerintah wilayah
Pajajaran yang telah runtuh, yaitu sirna, di bumi Parahyangan. Keraton raja
Sumedang ini terletak di Kutamaya dalam daerah Sumedang), selanjutnya
diberitakan "Rakyan Samanteng Parahyangan mangastungkara ring sira
Pangeran Ghesan Ulun" (Para penguasa lain di Parahiyangan merestui
Pangeran Geusan Ulun).
Keempat orang bersaudara, senapati
dan pembesar Pajajaran yang diutus ke Sumedang tersebut, yaitu Jayaperkosa
(Sanghyang Hawu); Wirajaya (Nangganan); Kondang Hapa; dan Pancar Buana (Embah
Terong Peot).
Dalam Pustaka Kertabhumi I/2
menceritakan keempat bersaudara itu: "Sira paniwi dening Prabu Ghesan
Ulun, Rikung sira rumaksa wadyabala, sinangguhan niti kaprabhun mwang
salwirnya" (Mereka mengabdi kepada Prabu Geusan Ulun. Di sana mereka
membina bala tentara, ditugasi mengatur pemerintahan dan lain-lain), sehingga
peristiwa penobatan Prabu Geusan Ulun sebagai Nalendra penerus Kerajaan Sunda
Pajajaran dan Raja Sumedang Larang ke-9 mendapat restu dari 44 penguasa daerah
Parahyangan yang terdiri dari 26 Kandaga Lante, Kandaga Lante adalah semacam
Kepala yang satu tingkat lebih tinggi dari pada Cutak (Camat) dan 18 Umbul
dengan cacah sebanyak + 9000 umpi, untuk menjadi Nalendra baru pengganti
penguasa Pajajaran yang telah sirna. Pemberian pusaka Pajajaran pada tanggal 22
April 1578 akhirnya ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Sumedang.
Jayaperkosa adalah bekas senapati
Pajajaran, sedangkan Batara Wiradijaya sesuai julukannya bekas Nangganan.
Menurut Kropak 630, jabatan Nangganan lebih tinggi setingkat dari menteri,
namun setingkat lebih rendah dari Mangkubumi.
Di samping itu, menurut tradisi hari
pasaran Legi (Manis), merupakan saat baik untuk memulainya suatu upaya besar
dan sangat penting. Peristiwa itu dianggap sangat penting karena pengukuhan
Geusan Ulun "nyakrawartti" atau Nalendra merupakan semacam proklamasi
kebebasan Sumedang yang mensejajarkan diri dengan Kerajaan Banten dan Cirebon.
Arti penting lain yang terkandung dalam peristiwa itu adalah pernyataan bahwa
Sumedang Larang menjadi ahli waris serta penerus yang sah dari kekuasaan
Kerajaan Pajajaran, di Bumi Parahyangan.
Mahkota dan beberapa atribut
kerajaan yang dibawa oleh senapati Jayaperkosa dan diserahkan kepada Prabu
Geusan Ulun merupakan bukti legalisasi kebesaran Sumedang Larang, sama
halnya dengan pusaka Majapahit menjadi ciri keabsahan Demak, Pajang, dan
Mataram.
Berdasarkan bukti-bukti sejarah baik
yang tertulis maupun babad/cerita rakyat, maka penetapan Hari Jadi Sumedang
ditetapkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sejarah.
Serangan laskar gabungan Banten,
Pakungwati, Demak, dan Angke pada abad XVI ke Pajajaran, merupakan peristiwa
yang membuat Kerajaan Pajajaran Runtag (runtuh).
Berakhirnya Pajajaran pada waktu
itu, tidak menyeret Sumedang Larang dibawah kepemimpinan Pangeran Santri ikut
runtuh pula. Soalnya, sebagian rakyat Sumedang Larang pada itu sudah memeluk
Agama Islam. Justru dengan berakhirnya masa kekuasaan Pajajaran, Sumedang
Larang kian berkembang.
Penetapan Hari Jadi Kabupaten
Sumedang erat kaitannya dengan peristiwa di atas. Terdapat tiga sumber sejarah
yang dijadikan pegangan dalam menentukan Hari Jadi Kabupaten Sumedang:
Pertama : Kitab Waruga Jagat,
yang disusun Mas Ngabehi Perana tahun 1117 H. Kendati tak begitu lengkap
isinya, namun sangat membantu dalam upaya mencari tanggal tepat untuk dijadikan
pegangan/penentuan Hari Jadi Sumedang."Pajajaran Merad Kang Merad Ing
Dina Selasa Ping 14 Wulan Syafar Tahun Jim Akhir," artinya: Kerajaan
Pajajaran runtuh pada 14 Syafar tahun Jim Akhir.
Kedua : Buku Rucatan Sejarah
yang disusun Dr. R. Asikin Widjayakusumah yang menyertakan antara lain: Pangeran
Geusan Ulun Jumeneng Nalendra (harita teu kabawa kasasaha) di Sumedang Larang
sabada burak Pajajaran. Artinya, Pangeran Geusan Ulun menjadi raja yang
berdaulat di Sumedang Larang setelah Kerajaan Pajajaran berakhir.
Tiga : Dibuat Prof. Dr. Husein
Djajadiningrat berjudul : Critise Beshuocing van de Sejarah Banten.
Desertasi ini antara lain menyebutkan serangan tentara Islam ke Ibukota
Pajajaran terjadi pada tahun 1579, tepatnya Ahad 1 Muharam tahun Alif.
Mengacu pada ketiga sumber sejarah
tadi, maka dalam diskusi untuk menentukan Hari Jadi Sumedang yang dihadiri para
sejarawan masing-masing Drs. Said Raksakusumah; Drs. Amir Sutaarga; Drs. Saleh
Dana Sasmita; Dr. Atja dan Drs. A Gurfani, berhasil menyimpulkan bahwa 14
Syafar Tahun Jim Akhir itu jatuh pada tahun 1578 Masehi, bukan tahun 1579,
tepatnya 22 April 1578.
Atas dasar itu DPRD Daerah Tingkat
II Sumedang waktu itu, dalam Keputusan Nomor 1/Kprs/DPRD/Smd/1973, Tanggal 8
Oktober 1973, menetapkan tanggal 22 April 1578 sebagai Hari Jadi Kabupaten
Sumedang.
Bupati
Sumedang dari Masa ke Masa:
Berikut adalah nama-nama bupati
Sumedang:
1.
Pangeran Koesoemahdinata I (Pangeran
Santri) : 1530-1578
2.
Pangeran Koesoemahdinata II
(Pangeran Geusan Ulun) : 1578-1601
3.
Pangeran Koesoemahdinata III
(Pangeran Rangga Gempol I) : 1601-1625
4.
Pangeran Koesoemahdinata IV
(Pangeran Rangga Gede) : 1625-1633
5.
Raden Bagus Weruh (Pangeran
Koesoemahdinata V/Pangeran Rangga Gempol II) : 1633-1656
6.
Pangeran Koesoemahdinata VI
(Pangeran Panembahan/Pangeran Rangga Gempol III) : 1656-1706
7.
Dalem Adipati Tanoemadja :
1706-1709
8.
Raden Tumenggung Koesoemahdinata VII
(Pangeran Rangga Gempol IV/Pangeran Karuhun) : 1709-1744
9.
Dalem Istri Radjaningrat :
1744-1759
10.
Dalem Adipati Koesoemahdinata VIII
(Dalem Anom) : 1759-1761
11.
Dalem Adipati Soerianagara II :
1761-1765
12.
Dalem Adipati Soerialaga :
1765-1773
13.
Dalem Adipati Partakoesoemah (Tusschen
Bestur Parakanmuncang) : 1773-1789
14.
Dalem Aria Satjapati III :
1789-1791
15.
Raden Tumenggung Soerianagara
(Pangeran Koesoemahdinata IX/Pangeran Kornel) : 1791-1828
16.
Dalem Adipati Koesoemahjoeda (Dalem
Ageung) : 1828-1833
17.
Dalem Adipati Koesoemahdinata (Dalem
Alit) : 1833-1834
18.
Raden Tumenggung Soeriadilaga :
1834-1836
19.
Pangeran Soeria Koesoemah Adinata
(Pangeran Sugih) : 1836-1882
20.
Pangeran Aria Soeriaatmadja
(Pangeran Mekkah) : 1882-1919
21.
Adipati Aria Koesoemadilaga :
1919-1937
22.
Tumenggung Aria Soeria Koesoema
Adinata : 1937-1946
23.
Tumenggung Hasan
Satjakoesoemah : 1946-1947
24.
Tumenggung Mohamad Singer :
1947-1949
25.
Tumenggung Hasan
Satjakoesoemah : 1949-1950
26.
Raden Abdoerachman
Kartadipoera : 1951-1958
27.
Sulaeman Soemitakoesoemah :
1951-1958
28.
Antam Sastradipura (Kepala Daerah)
dan R. Enoh Soeriadikoesoemah (Pj. Bupati) : 1958-1960
29.
Mohamad Chafil : 1960-1966
30.
Adang Kartaman : 1966-1970
31.
Drs. Supian Iskandar (Pj. Bupati) :
1970-1972
32.
Drs. Supian Iskandar :
1972-1977
33.
Drs. Soeyoed (Pj. Bupati) :
1977-1978
34.
Drs. H. Kustandi Abdoerachman :
1978-1983
35.
Drs. H. Sutardja : 1983-1993
36.
Drs. H. Moch Husein
Jachjasaputra : 1993-1998
37.
Drs. H. Misbach : 1998-2003
38.
H. Don Murdono, S.H., M.Si : 2003-2013
Print this page

0 komentar: